Sabtu, 09 Mei 2015

UPACARA ADAT KOLOLI KEI TERNATE



Kololi Kie dalam bahasa Ternate berarti Keliling Gunung (Kololi artinya Keliling) dan (Kie artinya Gunung), adalah sebuah ritual adat mengelilingi gunung Gamalama sekaligus pulau Ternate yang dilakukan langsung Sultan bersama permaisuri Boki Nita Budi Susanti bersama pasukannya (kapita) dan rakyatnya (bala kusu sekano kano).
Tradisi yang berusia sudah 700 tahun lebih ini, adalah ritual untuk mendoakan rakyat Maluku Kie Raha dan Ternate yang dilakukan Sultan. Ritual ini tidak hanya dilakukan saat Sultan berultah, ketika masyarakat Maluku Utara dilanda musibah besar seperti bencana alam dan didera konflik pertikaian, Sultan pun langsung menggelar Kololi Kie.
Ada dua jalur yang ditempuh dalam Kololi Kie, yakni jalur laut yang dalam bahasa local Ternate disebut Kololi Kie Toma Ngolo (Toma berarti di dan Ngolo berarti Laut) disamping jalur darat (Kololi Kie Toma Nyiha (Nyiha berarti Darat).
Namun, sejak selama 32 tahun berkuasa memimpin Keraton Ternate, Sultan Mudaffar sendiri lebih sering menggunakan rute jalur laut dalam melakukan ritual ini.  Penulis sendiri, berkesempatan mengikuti rombongan kololi kie yang dilakukan Sultan dan permasiurinya.
Selama perjalanan ritual mengitari Gunung Gamalama itu, Sultan dan permaisuri, tidak sendiri. Keduanya dikawal puluhan kapal yang ditumpangi ratusan tentara dan rakyatnya selama perjalanan. Semua kapal-kapal yang membawa rombongan, telah dihiasi janur kuning, dipasangi umbul-umbul kemudian berangkat dari jembatan Dodoku Ali, jembatan kesultanan Ternate.
Diantara puluhan kapal-kapal itu, selalu ada satu kapal yang dilengkapi alat-alat music tradisional Ternate seperti tifa, gendang, dan gong. Alat-alat music ini terus dimainkan selama perjalanan megitari pulau Ternate yang berjarak 45 kilometer itu tanpa henti.
Sepanjang perjalanan, Sultan bersama dengan sejumlah tokoh ditonton warga dari dekat yang sejak pagi, berbondong-bondong berkumpul di tepi pantai. Saat mengitari gunung itu, tak henti-hantinya sultan mengucapkan kalimat-kalimat doa yang ditujukan kepada penguasa alam untuk selalu melindungi rakyatnya.
Disetiap kololi kie, Sultan dan Boki selalu menyempatkan diri untuk mampir Ake Sibu atau yang dikenal dengan Ake Rica (tempat pemandian) di Kelurahan Rua, untuk mencuci kaki. Lokasi yang berada tak jauh dari Pantai Rua itu, kini merupakan salah satu lokasi wisata.
“Ada juga beberapa kuburan keramat yang disinggahi Sultan disetiap sekaligus berziarah, namun itu jarang dilakukan,” ucap Arsyad, salah satu Al Firis atau pengawal Sultan.
Menariknya, usai sultan dan boki mencuci kaki di Ake Sibu, ratusan warga yang datang dari berbagai desa pun terlihat mengerumuni kolam yang sudah berusia ratusan tahun itu, kemudian membasuh mukanya dengan air bekas cucian kaki sultan dan Boki.
Menurut warga sekitar, air bekas cucian kaki sultan dan boki itu, diyakini bisa menghilangkan penyakit, membawa berkah dan keselamatan. Sebagian diantara mereka tampak ada yang mengisinya kedalam botol untuk dibawa pulang.
Jadi Kebiasaan Akhir Pekan
Tradisi Kololi Kie, sepertinya tidak hanya dilakukan Sultan dan Boki, namun megitari Gamalama dan pulau ternate memang kerap dilakukan warga Kota Ternate disetiap akhir pekan, bahkan ini sudah menjadi tradisi berwisata warga setempat sambil menyambangi satu persatu lokasi wisata di Ternate terutama pantai.
Biasanya, agenda wisata ini dilakukan melalui jalur darat menggunakan  kendaraan baik roda dua maupun empat. Namun mengelilingi ternate melalui jalur laut lebih menarik ketimbang melalui darat. Oleh karenanya, warga yang berkesempatan ikut dalam ritual Kololie Kie ini, beruntung karena bisa melihat dari dekat setiap sudut pulau Ternate.
Namun, tidak semua warga memiliki kesempatan untuk ikut. Meski demikian, mereka hanya bisa menyaksikan dari tepi pantai iring-iringan rombongan kapal yang ditumpangi Sultan dan Boki.
Tontonan seperti ini, hanya ada setahun sekali ini atau disaat Ternate dilanda konflik maupun musibah seperti bencana alam. “Tradisi ini kami dari pihak keraton dan dinas pariwisata Ternate sudah menjadikannya sebagai sebuah wisata bagi warga Ternate,” ucap Mudaffar usai turun dari kapal.
Disamping itu, Ake Rica sendiri, juga menjadi salah satu objek wisata andalan ternate yang kerap dikunjungi wisatawan.  Sebab selain menjadi lokasi persinggahan Sultan dan Boki, Ake rica juga memiliki sejarah dimana, legenda yang diyakini warga setempat, adalah tempat pertama berlabuhnya tokoh legendaris Maulana Sayyidinaa Syekh Djaffar Shaddi, pembawa agama Islam pertama di Ternate dan Malut.
Mata airnya nya yang hangat, Ake Rica juga kini dijadikan tempat mandi untuk menghilangkan air garam di tubuh usai berenang di pantai Rua, salah satu objek wisata yang jaraknya tak jauh dari Ake Rica.
Disamping ake Rica, tercatat ada beberapa lokasi yang menjadi tempat persianggahan Sultan dan Boki yang dianggap keramat baik itu berupa makam para sultan maupun benteng yang memiliki sejarah terkait dengan perjuangan sultan dan warga Ternate dalam mengusir penjajah.

Seperti Kadato ma-Ngara (Gerbang Istana atau pintu masuk wilayah kesultanan), Kuburan (dalam bahasa Ternate disebut Jere) yakni Jere Kubu Lamo, Jere Toma Sigi Lamo (Kuburan di Kawasan Mesjid Besar), Jere toma Foramadiyahi (makam Sultan Babullah), Jere Kulaba (Makam di kelurahan Kulaba), Libuku Tabam ma-Dehe, Sao Madaha, Libuku Buku Deru-Deru, Libuku Bandinga Mari Hisa, Ngade atau Laguna, Talangame, dan Benteng Oranye serta Telaga Nita, yang kesemuanya oleh pemerintah dijadikan objek wisata sejarah.
(Adat, Budaya, Ciri Khas, upacara adat, Tradisi)

0 komentar:

Posting Komentar